Barito SelatanKalimantan TengahPemkab Barito Selatan

TRAGEDI KABUT ASAP! Bayi 6 Bulan Meninggal di IGD RSUD Buntok, Pneumonia Jadi Diagnosis Medis

Redaksi Dinamika Kalteng
21
×

TRAGEDI KABUT ASAP! Bayi 6 Bulan Meninggal di IGD RSUD Buntok, Pneumonia Jadi Diagnosis Medis

Sebarkan artikel ini

BARITO SELATAN – Kabar duka menyelimuti Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah. Seorang bayi perempuan berusia enam bulan berinisial SH, warga Desa Kalahien, meninggal dunia di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Jaraga Sasameh Buntok, Sabtu (10/10/2026), sekitar pukul 17.00 WIB. Bayi tersebut sebelumnya datang dalam kondisi sesak napas dan kejang-kejang, di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

‎

‎Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho, Sp.PD, FINASIM, yang juga selaku Plt Direktur RS Jaraga Sasameh, membenarkan bahwa pasien tiba di IGD sekitar pukul 14.00 WIB dengan kondisi sesak napas disertai kejang.

‎

‎“Pada pukul 14.00 WIB pasien datang ke IGD dengan kondisi sesak napas dan kejang. Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif, pasien didiagnosis mengalami pneumonia atau infeksi paru-paru yang cukup serius,” kata Dadang saat dikonfirmasi.

‎

‎Dadang menjelaskan bahwa tim medis telah melakukan berbagai upaya penanganan selama kurang lebih tiga jam. Namun, kondisi pasien tidak berhasil diselamatkan hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 17.00 WIB.

‎

‎Berdasarkan informasi yang disampaikan, bayi tersebut sebelumnya telah mengalami batuk dan sesak napas selama sekitar satu bulan, sebelum kondisinya semakin memburuk dan dibawa ke rumah sakit.

‎

‎Dadang menjelaskan, pneumonia merupakan penyakit infeksi paru-paru yang dapat menyerang siapa saja. Namun, bayi, balita, lanjut usia, serta orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami kondisi berat.

‎

‎Menurutnya, paparan asap tebal akibat karhutla berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

‎

‎“Pneumonia bisa menyerang siapa saja, terutama balita dan lansia serta orang yang mempunyai faktor komorbid rentan untuk terinfeksi, apalagi kita dalam kondisi seperti ini,” ujarnya.

‎

‎Meski demikian, Dadang menegaskan bahwa penyebab meninggalnya bayi tersebut tidak dapat dipastikan hanya karena paparan asap karhutla.

‎

‎Ia menjelaskan, pneumonia dapat dipicu oleh berbagai faktor. Kondisi lingkungan dengan paparan asap tebal berpotensi memperbesar risiko gangguan pernapasan, tetapi bukan berarti asap menjadi satu-satunya penyebab kematian pasien.

‎

‎Karena itu, dugaan bahwa korban meninggal akibat menghirup asap karhutla belum dapat dipastikan berdasarkan keterangan medis yang disampaikan.

‎

‎Di tengah ancaman kabut asap yang masih menjadi perhatian, Pemerintah Kabupaten Barito Selatan telah melakukan sejumlah langkah untuk melindungi kesehatan masyarakat.

‎

‎Dadang mengatakan, sesuai instruksi bupati, pihaknya telah melaksanakan pembagian masker kepada masyarakat serta menyediakan 13 rumah oksigen yang tersebar di wilayah Barsel.

‎

‎Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan warga secara gratis, terutama untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan layanan kesehatan di tengah kondisi kabut asap.

‎

‎Selain itu, pasien dengan kondisi berat yang berada di rumah oksigen maupun puskesmas akan dirujuk ke RSUD Jaraga Sasameh Buntok untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

‎

‎“Kami sudah melakukan pembagian masker, lalu membuat rumah oksigen sebanyak 13 rumah yang tersebar di Barsel agar bisa dimanfaatkan warga secara gratis. Bagi pasien-pasien yang dalam kondisi berat di rumah oksigen dan puskesmas, langsung dirujuk ke RSUD Jaraga Sasameh untuk penanganan lebih lanjut,” pungkasnya.

‎

‎Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap gangguan pernapasan, khususnya pada bayi dan anak-anak, di tengah kondisi udara yang tercemar asap. Masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis apabila bayi atau anak mengalami sesak napas, napas cepat, atau penurunan kondisi kesehatan. (Mas)

‎

‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *