Barito SelatanKalimantan TengahPemkab Barito Selatan

Ironi Negeri Terang: Kecamatan Tertua di Barsel Masih Gelap Gulita, Warga Menjerit Minta Listrik 24 Jam!

Pewarta: Mas Har
11
×

Ironi Negeri Terang: Kecamatan Tertua di Barsel Masih Gelap Gulita, Warga Menjerit Minta Listrik 24 Jam!

Sebarkan artikel ini

BARITO SELATAN – Status sebagai kecamatan tertua di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), ternyata tidak menjamin kemajuan infrastruktur. Fakta pahit justru dialami ribuan warga Kecamatan Dusun Hilir, khususnya di Kelurahan Mengkatip, yang hingga kini masih hidup dalam keterbatasan listrik.

‎Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan pembangunan nasional, warga Mengkatip, Kecamatan Dusun Hilir, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, justru harus bertahan dengan aliran listrik yang jauh dari kata layak. Listrik hanya menyala pada sore hingga dini hari, sementara siang hari mereka kembali hidup dalam kegelapan.

‎“Di era yang sangat maju seperti sekarang ini, sangat memprihatinkan wilayah kami Mengkatip masih belum dialiri listrik 24 jam,” ungkap Rahman (54), warga setempat, Senin (4/5/2026).

‎Menurutnya, listrik di Kelurahan Mengkatip dan beberapa desa sekitar hanya menyala mulai pukul 16.00 WIB hingga 06.00 WIB. Selebihnya, warga harus menjalani aktivitas tanpa aliran listrik, kondisi yang dinilai sangat tertinggal dibanding daerah lain.

‎Padahal, Kecamatan Dusun Hilir memiliki nilai historis tinggi sebagai bagian awal berdirinya Kabupaten Barito Selatan pada tahun 1959. Warga menilai sudah seharusnya wilayah tersebut menjadi prioritas pembangunan, bukan justru tertinggal.

‎“Kami ini bagian dari sejarah Barsel, tapi kondisi kami sangat kontras. Harusnya jadi prioritas,” tegas Rahman.

‎Keluhan serupa juga disampaikan Awaludin (46). Ia berharap pemerintah tidak hanya fokus pada listrik, tetapi juga pembangunan infrastruktur jalan yang layak. Akses darat dari Desa Lehai menuju Buntok hingga kini masih sulit dilalui.

‎“Harapan kami listrik bisa 24 jam dan jalan darat bisa layak dilalui. Supaya masyarakat tidak terisolasi,” ujarnya.

‎‎Ironisnya, sejumlah infrastruktur penunjang sebenarnya sudah tersedia. Tower listrik telah berdiri di Desa Lehai dan di Kelurahan Mengkatip, bahkan melintasi Sungai Barito. Namun hingga kini belum bisa difungsikan karena jaringan kabel belum terpasang.

‎“Tower sudah ada, tapi kabelnya belum dipasang. Jadi tidak bisa digunakan,” tambahnya.

‎Menanggapi kondisi tersebut, Kepala PLN UPL Buntok, Vivin Aprianor, menjelaskan bahwa wilayah Dusun Hilir sebenarnya berada di bawah kewenangan PLN ULP Tamiang Layang. Ia mengakui kendala utama saat ini adalah perizinan yang belum tuntas.

‎“Kendala yang kami hadapi adalah perizinan dari Kementerian Perhubungan, karena jaringan kabel akan melintasi jalur lalu lintas Sungai Barito,” jelasnya.

‎Pihak PLN, lanjutnya, terus berupaya agar izin tersebut segera terbit sehingga pemasangan jaringan dapat dilakukan dan masyarakat bisa menikmati listrik secara penuh.

‎“Kami berharap izin segera keluar, agar warga Dusun Hilir bisa merasakan listrik 24 jam nonstop,” pungkasnya.

‎Kondisi ini menjadi ironi di tengah gencarnya pembangunan nasional. Ketika sebagian wilayah Indonesia sudah berbicara tentang energi terbarukan dan digitalisasi, warga di kecamatan tertua Barsel masih berjuang mendapatkan hak dasar: listrik yang menyala sepanjang hari. (Mas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *