BARITO SELATAN – Pemerintah Kabupaten Barito Selatan menyalurkan Bantuan Pangan dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) Tahun 2026 yang diserahkan langsung oleh Bupati Barito Selatan Eddy Raya Samsuri dan Wakil Bupati Khristianto Yudha secara simbolis kepada masyarakat Desa Marga Jaya dan Desa Sarimbuah, Senin (14/9/2026).
Kegiatan tersebut dirangkai dengan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang disampaikan Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI AD.
Bupati Barito Selatan mengatakan, kedua kegiatan tersebut memiliki kaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Bantuan pangan diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga, sementara penyuluhan karhutla menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan, keselamatan, lingkungan, serta kelancaran aktivitas masyarakat.
“Hari ini kita melaksanakan dua kegiatan yang sama-sama penting bagi masyarakat, yaitu penyaluran Bantuan Pangan dan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah Tahun 2026 bagi masyarakat Desa Marga Jaya dan Desa Sarimbuah, sekaligus penyuluhan pencegahan karhutla oleh Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI AD,” ujar Bupati.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi benar-benar memberikan manfaat dan diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bupati mengungkapkan, kondisi karhutla di Barito Selatan hingga September 2026 masih perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan pemantauan BMKG dan Satgas BPBD, sejak Januari hingga September 2026 telah terpantau lebih dari 3.300 titik panas (hotspot).
Sementara itu, luas lahan terbakar yang telah terverifikasi mencapai lebih dari 740 hektare, dengan lebih dari 157 kejadian kebakaran yang tersebar di enam kecamatan. Wilayah yang paling banyak terdampak antara lain Kecamatan Dusun Selatan, Dusun Hilir dan Karau Kuala.
“Dalam kondisi panas dan kering seperti sekarang, api kecil dapat dengan cepat membesar dan sulit dikendalikan. Jangan sampai kelalaian kita menimbulkan asap, gangguan kesehatan, kerusakan lingkungan, bahkan kerugian bagi masyarakat lainnya,” tegasnya.
Selain ancaman karhutla, Barito Selatan juga menghadapi kondisi kekeringan. Debit Sungai Barito dilaporkan mengalami penurunan cukup drastis.
Bupati menyebut, tinggi muka air di Dermaga Pasar Lama yang dalam kondisi normal berada di kisaran 11 hingga 12,5 meter, kini hanya sekitar 5,6 meter. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat di sejumlah desa dan kelurahan.
Kabut asap juga menjadi persoalan serius. Pada awal September, kualitas udara di sejumlah wilayah Barito Selatan sempat berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya akibat tingginya partikulat PM2.5 dan PM10.
Kondisi tersebut tidak hanya mengancam kesehatan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat dan jarak pandang.
Bupati menyampaikan apresiasi kepada TNI AD yang terus bersinergi dengan Pemkab Barito Selatan dalam upaya pencegahan dan penanganan karhutla.
Ia berharap penyuluhan yang diberikan Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI AD dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat dan aparat desa, khususnya terkait pencegahan dini, kewaspadaan terhadap titik api serta langkah aman ketika terjadi kebakaran.
Terkait dengan bantuan cadangan pangan, Bupati berharap bantuan tersebut benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Kepada pemerintah desa dan seluruh pihak yang terlibat, ia meminta agar proses penyaluran dilakukan secara tertib, tepat sasaran, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bupati menegaskan, penyaluran bantuan pangan dan pencegahan karhutla pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni melindungi serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kita ingin masyarakat hidup aman dan sehat, lingkungan tetap terjaga, serta kebutuhan pangan dapat terpenuhi,” pungkasnya. (Mas)












