BARITO SELATAN – Wakil Bupati Barito Selatan Khristianto Yudha mengajak generasi muda untuk tidak melupakan adat istiadat dan budaya leluhur di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat.
Pesan tersebut disampaikan Khristianto Yudha saat menghadiri penutupan rangkaian Ritual Adat Pemugaran Rumah Tulang di Desa Bipak Kali, Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Rabu (5/8/2026).
Kegiatan adat tersebut dihadiri Camat Gunung Bintang Awai Armadi bersama jajaran Forkopimcam, para kepala desa se-Kecamatan Gunung Bintang Awai, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta warga setempat.
Khristianto mengatakan, sejak tiba di Desa Bipak Kali, dirinya merasakan suasana kekeluargaan yang sangat kuat. Menurutnya, hal tersebut terlihat dari sambutan masyarakat, kerja sama panitia, hingga semangat gotong royong selama rangkaian kegiatan berlangsung.
“Sejak saya tiba di desa ini, saya benar-benar merasakan suasana kekeluargaan yang begitu hangat. Sambutan masyarakat, kerja sama panitia, serta semangat gotong royong yang ditunjukkan selama pelaksanaan kegiatan ini menjadi bukti bahwa adat bukan hanya sebuah warisan, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat,” kata Khristianto.
Ia menilai, pelestarian adat dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat, khususnya di Kabupaten Barito Selatan dan Kalimantan Tengah.
Di tengah kemajuan zaman, kata dia, masih banyak masyarakat yang tetap memegang teguh adat istiadat, menghormati para leluhur, serta melibatkan keluarga dan masyarakat dalam setiap prosesi adat.
“Nilai-nilai inilah yang menjadi kekuatan kita sebagai masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya masyarakat Barito Selatan,” ujarnya.
Menurut Khristianto, Pemugaran Rumah Tulang tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan memperbaiki sebuah bangunan. Ritual tersebut memiliki makna yang lebih luas karena menjadi bagian dari penghormatan terhadap leluhur sekaligus upaya mempertahankan ikatan kekeluargaan dan warisan budaya.
“Pemugaran Rumah Tulang bukan sekadar memperbaiki sebuah bangunan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ungkapan penghormatan kepada para leluhur, menjaga ikatan kekeluargaan, serta mengingatkan kita bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk merawat warisan budaya yang telah dititipkan kepada kita,” jelasnya.
Ia menegaskan, nilai gotong royong, kebersamaan dan sikap saling menghormati harus terus dipertahankan. Nilai tersebut diyakini menjadi modal sosial bagi masyarakat untuk menghadapi berbagai tantangan perubahan zaman.
Dalam kesempatan tersebut, Khristianto secara khusus menitipkan pesan kepada generasi muda agar tidak malu mempelajari dan mengenal adat serta budaya daerahnya sendiri.
“Jangan pernah merasa malu mengenal adat sendiri. Pelajari budaya kita, hormati para tetua adat, dan teruskan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa keberlangsungan budaya sangat bergantung pada kepedulian generasi penerus. Jika generasi muda tidak lagi mengenal akar budaya daerahnya, maka identitas masyarakat berpotensi semakin tergerus oleh perubahan zaman.
“Sebab suatu daerah akan kehilangan arah apabila generasi mudanya melupakan akar budayanya,” imbuhnya.
Khristianto berharap berakhirnya rangkaian Ritual Adat Pemugaran Rumah Tulang di Desa Bipak Kali dapat menjadi momentum untuk semakin memperkuat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat.
Ia juga mendoakan agar seluruh masyarakat Desa Bipak Kali dan Kabupaten Barito Selatan senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, rezeki yang berlimpah, kehidupan yang rukun, serta keberkahan.
“Mari kita terus menjaga persaudaraan, saling membantu, serta bersama-sama membangun Barito Selatan yang maju tanpa meninggalkan adat, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi identitas kita,” pungkasnya. (Mas)












